Senin, 04 Juni 2018

KEBUDAYAAN WAYANG GOLEK




KEBUDAYAAN WAYANG GOLEK



Banyak orang mengira kalau wayang berasal dari India karena sumber cerita yang terkenal dan sering dimainkan adalah Mahabharata dan Ramayana. Namun tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu, dan malah setelah melakukan penelitan lebih jauh, para ahli wayang kemudian berkesimpulan kalau wayang adalah kreasi asli orang Indonesia.

Wayang Kulit sudah muncul terlebih dahulu sebagai tradisi kuno yang hanya dimainkan pada malam hari dengan bantuan cahaya blencong (sejenis alat penerangan berbahan bakar minyak tanah). Kemudian pada tahun 1583, muncullah Wayang Golek. Awalnya, Sunan Kudus memperkenalkan boneka kayu sebagai alternatif pertunjukan yang dapat dimainkan pada siang hari. Boneka kayu itulah yang kemudian dikembangkan menjadi Wayang Golek khas Jawa Barat.

Di awal-awal kemunculannya, bentuk wayang menyerupai figur manusia. Tetapi setelah kedatangan agama Islam, bentuk wayang kemudian berubah karena agama Islam melarang pemeluknya menciptakan benda yang sangat mirip dengan manusia.

Maka wayang pun berubah bentuk menjadi semacam makhluk yang sebenarnya bentuknya masih mirip dengan bentuk manusia, tetapi bagian-bagian tubuhnya sengaja dibuat tidak proporsional namun tetap mewakili tokoh khusus. Dalam pertunjukan Wayang Golek, sang dalanglah yang menggambarkan perasaan boneka-boneka yang dimainkannya, sekaligus menceritakan lakon yang sedang dimainkan.

Lakon yang dimainkan bisa berupa cerita sempalan (cuplikan dari cerita sumber) atau carangan (cerita yang merupakan improvisasi dalang saat mengadakan pertunjukan) atau langsung menggunakan cerita sumber seperti Mahabharata dan Ramayana.

Bila menggunakan cerita sempalan atau carangan, biasanya pertunjukan Wayang Golek hanya berlangsung dalam empat atau lima alur cerita, dengan durasi dalam hitungan jam. Tetapi jika menggunakan cerita sumber, durasinya bisa sampai semalam suntuk, dengan alur cerita yang lebih banyak dan kompleks. Banyak nilai yang bisa disampaikan atau dipelajari dari lakon yang dimainkan dalam pertunjukan Wayang Golek, di antaranya tentang kesetiaan, kehormatan, dan balas budi.

Dalam satu pertunjukan Wayang Golek, biasanya ada sekitar 20–30 boneka yang dimainkan. Dan yang sering muncul dan sudah dikenal masyarakat adalah Arjuna, Pandawa Lima, Cepot, Gatotkaca, Bima, Rahwana, dan para Kurawa. Sementara dalang-dalang yang digemari oleh pecinta pertunjukan wayang adalah Asep Sunarya, Ade Sunarya, Dede Amung. Itu karena dalang-dalang ini memiliki keterampilan khusus dalam memainkan wayang, sehingga mampu menceritakan lakon yang diselingi humor, serta komunikatif dengan penontonn



KEBUDAYAAN REOG PONOROGO



KEBUDAYAAN REOG




Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.

Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

kebudayaan karapan sapi



kebudayaan karapan sapi



Karapan sapi yang merupakan perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Madura Jawa Timur, bagi kebanyakan masyarakat Madura karapan sapi tidak hanya sebuah pesta rakyat atau acara yang diselenggarakan tiap tahun yang diwarisi secara turun temurun. Tetapi karapan sapi bagi masyarakat Madura adalah bentuk symbol prestise yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura, karena sapi yang digunakan untuk pertandingan merupakan sapi sapi yang berkualitas sangat baik tentu dengan perlakuan yang istimewa pula.

Pulau Madura tidak hanya dikenal sebagai penghasil garam, tetapi juga penghasil sapi sapi pacuan yang berkualitas sangat baik. Tidak jarang sang pemilik sapi mempersiapkan sapi pacuannya dengan memberikan pijatan khusus dan makanan tidak kurang dari 80 butir telur setiap harinya, agar stamina dan kekuatan sapi sapi tersebut terjaga. Bahkan perlakuan istimewa sapi sapi tersebut dibeberapa rumah terlihat ada yang menghiasi garasi bukan kendaraan mobil tetapi malah sapi tersebut yang berada digarasi rumah. Maklum saja karena untuk sapi yang memenangkan pertandingan dapat mencapai harga Rp 75 juta per ekornya.

Dalam perayaan karapan sapi ini, harga diri para pemilik sapi dipertaruhkan. Kalau mereka dapat memenangkan pertandingan, selain hadiah uang didapat biasanya hadiah dari pertaruhan juga mereka dapatkan. Kalau mereka kalah dalam pertandingan ini, harga diri pemilik jatuh dan mereka habis uang yang tidak sedikit untuk karapan sapi ini. Karena perawatan sapi – sapi sebelum pertandingan mahal, dan biasanya mereka menyewa dukun agar menjaga sapinya selamat dari serangan jampi-jampi musuh mereka.

Perayaan besar karapan sapi ini diadakan 1 kali dalam setahun, tetapi untuk menuju final harus memenuhi beberapa tahapan terlebih dahulu. Ada dua macam perayaan karapan sapi dimadura, yang pertama adalah Presiden Cup dan Bupati Cup. Untuk Bupati cup biasanya diadakan 2 kali dalam setahun, para pemenang dari bupati cup ini biasanya akan melanjutkan pertandingannya ke Presiden cup, untuk para fotografer momen yang bagus adalah pada saat Bupati Cup. Karena Bupati Cup biasanya diadakan dipinggiran kota, garis pembatas hanya terbuat dari anyaman bambu yang membuat acara ini semakin tradisional, tetapi faktor keamanan karapan sapi Bupati Cup ini sangat kurang jadi berhati hatilah pada saat mengambil momen foto. Yang meriah setelah bupati cup adalah Presiden Cup, acara ini sangat meriah dan ramai. Karena sebagian besar yang mengikuti Presiden Cup ini biasanya adalah para pemenang di Bupati Cup, acara besar ini diselenggarakan di kota Bangkalan dan perayaannya antara bulan September atau Oktober.

Dalam even karapan sapi para penonton tidak hanya disuguhi adu cepat sapi dan ketangkasan para jokinya, tetapi sebelum memulai para pemilik biasanya melakukan ritual arak-arakan sapi disekelilingi pacuan disertai alat musik seronen perpaduan alat musik khas Madura sehingga membuat acara ini menjadi semakin meriah.

Panjang rute lintasan karapan sapi tersebut antara 180 sampai dengan 200 meter, yang dapat ditempuh dalam waktu 14 sd 18 detik. Tentu sangat cepat kecepatan sapi – sapi tersebut, selain kelihaian joki terkadang bamboo yang digunakan untuk menginjak sang joki melayang diudara karena cepatnya kecepatan sapi sapi tersebut. Untuk memperoleh dan menambah kecepatan laju sapi tersebut sang joki, pangkal ekor sapi dipasangi sabuk yang terdapat penuh paku yang tajam dan sang joki melecutkan cambuknya yang juga diberi duri tajam kearah bokong sapi. Tentu saja luka ini akan membuat sapi berlari lebih kencang, tetapi juga menimbulkan luka disekitar pantat sapi. Setelah bertanding sapi tersebut diberikan beberapa waktu agar luka itu sembuh, tetapi sapi yang dipertandingan dikarapan ini hanya 2 sampai dengan 3 kali saja diberikan pertandingan dan tidak boleh lebih.

Jarak pemenang terkadang selisih sangat tipis, bahkan tidak jarang hanya berjarak 1 sampai dengan 2 detik saja, dan hal ini terkadang membuat pihak yang kalah memprotes. Tetapi mereka diberikan kesempatan untuk bertanding lagi dengan yang kalah, dan saat yang membahagiakan bagi para pemenang. Selain mendapat hadiah, biasanya hadiah taruhan jg mereka dapatkan. Selain harga sapi pemenang dapat membumbung tinggi harganya.

Karapan Sapi di Madura merupakan pagelaran yang sangat unik, selain sudah diwarisi secara turun menurun tradisi ini juga terjaga sampai sekarang. Even ini dijadikan sebagai even pariwisata di Indonesia, dan tidak hanya turis local dari mancanegara pun banyak yang menyaksikan karapan sapi ini. Semoga kedepannya semakin meriah dan ajang taruhan yang menghiasi karapan sapi tersebut bisa hilang. Kalau Anda mampir ke Surabaya, tidak ada salahnya melihat jadwal dan menonton karapan sapi tersebut.

Selasa, 24 April 2018

cerpen kaitan antar manusia kejujuran dan kerja keras


                                               Kejujuran di kehidupan sehari hari

pada hari saat siang hari saya melintas jembatan penyeberangan di sebuah jalan di kawasan Jakarta, saya berpapasan dengan dua bocah kurus, kumal, dan bermandikan keringat. Menenteng tas plastik hitam, mereka menawarkan tisu. Saya pun menolak tanpa peduli. Mereka membalas kecuekan saya dengan ucapan sopan, “Terima kasih Oom!”

Mereka lalu menawarkan dagangannya kepada orang lain yang lalu lalang di jembatan itu. Di ujung jembatan, teronggok kantong hitam stok tisu mereka. Saya melihatnya sepintas dan masih ada sekitar dua per tiga tisu berada di dalam kantung itu.

Ketika saya melintas kembali menuju kantor, dua bocah tadi sedang memperoleh pembeli, seorang wanita. Masih dengan senyum ceria mereka. Apalagi transaksi berhasil. “Terima kasih ya Mbak … Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka. Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.


Sayang, dua bocah itu tidak memiliki uang kembalian. Di sisi lain Mbak tadi juga tidak memiliki uang pas. Dengan sigap, salah satu dari mereka menghampiri saya yang berada tak jauh dari mereka. “Oom, boleh tukar uang enggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian pembelian makan siang tadi, Rp4.000,-. Mungkin karena lama menunggu, Mbak pembeli tadi langsung bilang, “Ambil saja kembaliannya, Dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti. Secepat kilat ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, enggak apa-apa ambil saja!” Namun si anak berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!”

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah saya dan mereka. Uang Rp10.000,- digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar, “Om, tunggu sebentar ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”

“Eeh ... enggak usah. Biar saja ... nih!” saya kembalikan lagi uang itu ke si kecil. Ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya. “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar.” 

“Enggak apa-apa, itu buat kalian,” lanjut saya.

“Jangan Oom, itu uang Oom sama Mbak yang tadi juga,” anak itu bersikeras.

“Sudahlah. Saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menyelesaikan persoalan ini. Namun ia tetap menghalangi saya sejenak sebelum berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh Oom, kalau kelamaan, maaf.” Ia memberi saya delapan pack tisu.

“Buat apa?” saya terbengong.

“Maaf, tukar pakai tisu saja dulu Oom. Habis teman saya lama sih.” Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tisunya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tisu dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!” Mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan, “Duit Mbak tadi gimana?” suara kecil yang lain menyahut. “Lu hafal 'kan orangnya. Kali saja ketemu lagi ntar kita kasihin.”

Selasa, 27 Maret 2018

KEBUDAYAAN BETAWI


Budaya betawi


1. Bahasa
Dialek bahasa Betawi juga mencirikan perpaduan berbagai macam kebudayaan. Bahasa dari berbagai daerah lain di Nusantara dan budaya asing memberi kontribusi nan cukup dominan dalam pembentukan bahasa Betawi.
Bahasa Melayu contohnya. Karena banyaknya pendatang dari Sumatera dan Kalimantan Barat, bahasa Melayu sering digunakan di Betawi. Padahal, penduduk orisinil Betawi awalnya menggunakan bahasa Kawi. Mereka menduduki daerah sekitar pelabuhan Sunda Kalapa. Bahkan, bahasa Melayu pun turut digunakan oleh suku Sunda nan menempati wilayah ini.
Menurut sejarah, masuknya bahasa Melayu ke Betawi seiring dengan eksvansi kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dari Sumatera menduduki Kerajaan Tarumanagara di Sundapura. Kerajaan Tarumanagara ditaklukkan sebab dinilai lalai. Saat dimintai pertolongan oleh Sriwijaya, Kerajaan Tarumanagara tak sungguh-sungguh menjaga perairan bahari nan berada di sebelah barat Sungai Cimanuk.
Wilayah perairan bahari sebelah barat Sungai Cimanuk dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya menyusul Perjanjian Damai Sriwijaya-Kediri nan dimediasi oleh China. Bersamaan dengan itu, bergerombolah pendatang dari Sumatera dan Kalimantan Barat ke pelabuhan Sunda Kalapa.
Selanjutnya, seperti digambarkan dalam naskah antik Bujangga Manik nan disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris, ada disparitas bahasa nan sangat mencolok antara nan digunakan oleh orang-orang di sekitar Batavia dan suku Sunda. Karenanya, awal abad ke-20, Belanda menyebut warga di sekitar Batavia sebagai etnis Betawi.
Akan tetapi, bahasa Sunda tetap bercokol di wilayah tersebut. Maka tidak heran bila banyaknya nama-nama daerah dan sungai nan masih kental dengan bahasa Sunda. Seperti Cideng berasal dari Cihideung. Lalu, berubah menjadi Cideung dan belakangan menjadi Cideng. Nama-nama Sunda lainnya di antaranya Ciliwung, Cilandak, Ancol, dan Pancoran.
Kini, bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi nan digunakan di Jakarta. Untuk bahasa percakapan sehari-harinya penduduk Jakarta menggunakan bahasa Indonesia berdialek Betawi.






2. Kesenian
Kesenian Barat, Tionghoa, Arab, Melayu, dan Sunda sangat memengaruhi seni musik Betawi. Akan tetapi, bagaimanapun kuatnya pengaruh tersebut, rona musik nan dihasilkan tetap khas budaya Betawi.
Berikut ini beberapa jenis seni musik Betawi.
  1. Keroncong tugu berlatar belakang Portugis-Arab,
  2. Gambang kromong nan awalnya berasal dari seni musik orisinil Tionghoa,
  3. Tanjidor berlatarbelakang ke-belanda-an, dan
  4. Rebana berakar pada tradisi musik Arab.
Beberapa jenis seni tari Betawi.
  1. Tari samrah,
  2. Tari cokek,
  3. Tari zapin,
  4. Tari topeng betawi,
  5. Tari blenggo,
  6. Tari yapong dipengaruhi tari jaipong Sunda, dan
  7. Tari cokek.
Beberapa jenis seni peran Betawi
  1. lenong,
  2. tonil,
  3. shahibul hikayat (teater tutur),
  4. gambang rancang (teater tutur), dan
  5. wayang kulit Betawi.
  6. Biasanya melakonkan keseharian rakyat Betawi.

Cerita rakyat Betawi, berikut cerita rakyat Betawi nan cukup melegenda:
  1. Si Pitung (jawara Betawi),
  2. Serial Jagoan Tulen (jawara Betawi),
  3. Si Jampang (jawara Betawi),
  4. Nyai Dasima, menceritakan kehidupan ketika zaman kolonial,
  5. Mirah dari Marunda,
  6. Murtado Macan Kemayoran,
  7. Juragan Boing dan nan lainnya.





3. Senjata tradisional Betawi
Bendo atau golok dengan sarungnya terbuat dari kayu.


4. Sandang adat Betawi
Pakaian adat laki-laki orang Betawi berupa tutup kepala nan biasa disebut destar atau liskol. Baju jasnya menutup leher (jas tutup). Ke bawah mengenakan celana panjang batik. Selembar kain batik atau lockan melingkar pada bagian pinggang dan sebilah belati diselipkan di depan perut. Sandang adat wanitanya berupa kebaya dilengkapi selendang panjang nan menutup kepala serta kain batik.
Sedangkan baju pengantin pria terdiri dari sorban, jubah panjang, dan celana panjang. Komposisi ini banyak dipengaruhi kebudayaan Arab. Baik pengantin pria maupun pengantin wanita mengenakan terompah (alas kaki). Motifnya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab.
Kebudayaan China lebih mempengaruhi baju adat pengantin wanita. Si pengantin tampak anggun mengenakan yangko (penutup muka), dengan pakaian model encim dan rok panjang. Tampak peniti rante dan ikat pinggang dari bahan emas atau perak melengkapi busana.
Tamu undangan biasanya memakai hiasan gelang listering, serta cincin berbentuk belah ketupat.


5. Masakan Betawi
Bir pletok ialah minuman unik orang Betawi. Minuman nan diadopsi dari barat ini memiliki cita rasa tersendiri. Bir peletok berbahan dasar jahe, bisa menghangatkan dan menyehatkan badan. Disebut bir pletok, sebab syahdan saat dimasak bir ini mengeluarkan bunyi "pletak-pletok".
Sementara jenis makanan tradisional khas etnik Betawi di antaranya sayur babanci (sayur 1.000 bumbu), gado-gado, geplak, dan kerak telor.








6. Prosesi pernikahan adat Betawi
Berikut ini prosesi unik pernikahan adat Betawi:
  1. Bawaan pengantin pria
Bawaan wajib bagi mempelai pria terdiri atas sirih lamaran sebagai simbol menghormati pihak perempuan, maket masjid sebagai pesan kepada pihak wanita buat tak lupa beribadah. Bawaan wajib lainnya ialah kekudung, mahar (mas kawin), pesalinan, dan petise. Pesalinan berupa baju wanita dan roti buaya. Sedangkan petise ialah kotak berisi sayur mayur atau bahan mentah buat pesta.
  1. Roti buaya
Buaya menjadi simbol kesetiaan. Dengan menjunjung kesetiaan pasangan akan abadi dan tak berpoligami. Pasangan ini juga selalu mencari makan bersama-sama.
Itulah makna nan terdapat pada simbol sepasang roti buaya. Terkadang disertakan juga roti buaya kecil. Hal ini menunjukkan simbol anak kedua pengantin kelak.
  1. Arak-arakan pengantin
Saat akan melakukan akad nikah, mempelai pria dikawal bak seorang raja. Mempelai pria juga diiringi rombongan nan membawa seserahan. Ondel-ondel, tanjidor , marawis, dan dua pemuda nan membawa bunga kelapa (lambang kemakmuran) turut meramaikan suasana. Posisinya berada di bagian depan.
Begitu rombongan tiba akan disambut dengan letusan petasan, penanda akan diselenggarakan hajat besar.
  1. Buka palang pintu
“Buka palang pintu” ialah sebuah prosesi nan dilewati mempelai pria sebelum akad nikah. Maksudnya sebagai ujian bagi mempelai pria agar diterima menjadi calon suami. Dalam prosesi ini, utusan keluarga pria dan wanita saling berbalas pantun dan adu silat.










7. Rumah khas etnik Betawi
Rumah tradisional etnik Betawi lazimnya terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama kawasan publik yaitu ruang tamu atau amben. Kedua kawasan privat yakni ruang tengah dan kamar atau pangkeng. Ketiga kawasan servis yaitu dapur atau srondoyan.
Dalam arsitektur Betawi dikenal adanya balaksuji. Keberadaan konstruksi tangga nan banyak ditemukan pada jenis rumah anjung ini dinilai sakral. Sebab, jika ada orang nan melewati balaksuji diartikan menuju kesucian.
Dilihat dari bentuknya, berikut ini beberapa rumah etnik Betawi.
  1. Rumah joglo
Bentuk atapnya menjulang ke atas dan tumpul. Tak jauh berbeda dari rumah joglo Jawa. Rumah joglo memiliki dua serambi. Serambi belakang buat menerima tamu perempuan dan serambi depan buat menerima tamu laki-laki. Pintu masuknya terdapat di samping.
  1. Rumah kebaya
Disebut rumah kebaya, sebab tampak sampingnya berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Rumah nan memiliki beberapa pasang atap ini sebagai simbol penduduk Jakarta. Artinya, terdiri atas berbagai suku bangsa.
  1. Rumah panggung
Rumah anjung terbuat dari kayu. Rumah etnik Betawi pada sekitar abad 15-16 ini, mirip dengan rumah adat Melayu. Rumah anjung didesain agar mampu menahan banjir nan sewaktu-waktu datang. Biasanya banyak ditemukan di daerah berawa atau di pesisir pantai Marunda.
  1. Rumah bapang dan gudang
Rumah etnik Betawi nan berbentuk segi empat polos dan sederhana. Jika atap rumah bapang berbentuk pelana tak penuh dan lebar, rumah gudang aapnya berbentuk pelana utuh.








8. Boneka maskot Betawi
Ondel-ondel ialah kesenian rakyat Betawi nan akhirnya menjadi “maskot” kota Jakarta. Para pakar menegaskan boneka ondel-ondel sudah ada sejak berabad-abad lalu. Boneka raksasa berangka bambu setinggi 2,5 meter ini dibuat buat keperluan upacara. Ondel-ondel dipercaya memiliki kekuatan gaib. Tugasnya menjaga keselamatan kampung beserta isinya. Karenanya, ondel-ondel selalu dihadirkan tatkala melakukan upacara higienis desa atau sedekah bumi.
Zaman terus berkembang. Kini, ondel-ondel berfungsi sebagai pemeriah suasana. Baik pada arak-arakan penganten sunat, perkawinan, peresmian, maupun pawai. Selain itu, tentunya menjadi “maskot” DKI Jakarta.

BUDAYA ISLAM DI NUSANTARA


Kebudayaan islam di nusantara



Pengaruh Islam dalam kebudayaan nusantara telah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Proses akulturasi antara nilai-nilai keislaman yang masuk melalui jalur perdagangan dari Gujarat dengan unsur-unsur budaya lokal menghasilkan karakter yang khas pada kebudayaan masyarakat muslim di Indonesia.

Kombinasi antara dua entitas budaya yang berbeda ini, di samping juga unsur-unsur kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk sebelumnya dan kebudayaan barat yang masuk pada era kolonial, menghasilkan keragaman budaya yang sangat kaya.

Seiring waktu, kekayaan budaya ini mengalami pasang dan surut, sehingga berbagai upaya pelestarian dibutuhkan agar tidak ditelan zaman. Hal inilah yang mendasari munculnya gagasan pendirian Museum Istiqlal di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah. Museum yang berdiri berdampingan dengan Museum Bayt Al-Qur'an ini sejak awal dicita-citakan untuk merepresentasikan kekayaan karya seni budaya Indonesia bernapaskan Islam.

Keragaman suku membuat peninggalan budaya Islam di setiap daerah di Indonesia masing-masing memiliki warna tersendiri. Hal ini terlihat dari banyaknya koleksi benda peninggalan dari berbagai daerah yang ditampilkan di museum ini. Benda-benda peninggalan yang terdiri dari karya arsitektur, senjata, manuskrip, hiasan, busana, beraneka jenis kerajinan tangan, dan karya seni kaligrafi diharapkan dapat membuka mata masyarakat awam akan kekayaan budaya Islam yang dimiliki nusantara.

Di antara koleksi museum ini antara lain arsip foto arsitektur masjid-masjid di berbagai pelosok tanah air. Di samping itu, ditampilkan pula beraneka jenis pakaian tradisional yang mencerminkan pengaruh keislaman yang kuat seperti busana tradisional Aceh, aneka tenun songket dari beberapa daerah di Sumatera, dan aneka motif tekstil baik tradisional maupun kontemporer. Terdapat pula beberapa naskah kuno berbahasa arab, berbagai guci tanah liat, dan replika batu nisan yang menjadi bukti awal eksistensi keberadaan masyarakat Islam di Indonesia.

CINTA KASIH

KASIH SAYANG  SEORANG AYAH

Suatu hari saat diriku masih kecil, ketika aku masih berumur 3-4 tahunan. Aku belum kenal sama sekali akan suara “burung”, hanya saja aku mengerti namanya.
Dihari pagi yang cerah ini, aku diajak oleh Ayahku keluar rumah, di taman tepatnya. Duduk di taman dengan merasakan kesejukan pagi hari yang cerah ini.

Suatu ketika, Aku mendengar suara yang belum pernah dan belum Aku dengar sama sekali, Aku heran. Di sinilah Aku bertanya “Ayah, suara apa ini?” dengan rasa heranku. Ayah menjawab “Itu suara burung, nak”. Aku terdiam, dalam hatiku berkata “sungguh indah suara burung itu”, dan Aku mengungkapkannya kepada Ayah apa isi hatiku tadi.

Setelah beberapa menit kemudian, Aku mendengar sebuah suara hewan yang indah, suara itu berasal dari atas langit. Aku pun bertanya kepada Ayah “Ayah, suara apakah itu? suara itu sangat indah”. Ayah menjawab “Itu suara burung anakku”. Aku dan Ayah masih berada di taman.

 Beberapa menit kemudian Aku bertanya lagi, karena Aku mendengar suara yang indah sekali “Ayah, suara apa itu?” dengan penuh keheranan. Dengan senang hati Ayah menjawab “Itu suara burung sayang..” Aku terdiam, dan beberapa puluh-puluh kali dan pertanyaan Aku selalu sama, Ayah selalu menjawab dengan penuh kesabaran dan kasih sayang seorang Ayah.


Terasa sudah lama, Ayah mengajak Aku pulang. Di rumah Aku selalu diberi kasih sayang yang sangatlah besar sekali oleh kedua orangtuaku.
Setelah beberapa tahun kemudian, Aku menginjak umur 18 tahun. Kini Aku lebih dewasa, mengerti apa yang ada di dunia ini. 
                    Kini Ayahku telah menginjak umur lanjut usia, Ayahku tak bisa melihat karena 3 tahun yang lalu Ayahku kecelakaan ketika pulang dari meetingnya, dan disitulah Ayahku harus kehilangan matanya. Tetapi, setelah 1 tahun kejadian itu, Ayah tetap saja bekerja walau tak secepat dulu. Ayah selalu diantar jemput oleh sopir dan orang yang selalu ada disaat Ayah bekerja.

Ketika Ayah sedang cuti, Aku mengajak Ayah untuk keluar rumah, seperti halnya ketika Aku masih balita. Aku mengajak Ayah di sebuah taman yang sangatlah sejuk, karena Ayah sangatlah suka dengan keindahan dan kesejukan yang ada di taman. Aku duduk di samping Ayah dan menemaninya.
Suatu ketika ada segerombol burung yang lewat di atas langit dan melewatiku dan juga Ayah. Burung itu mengeluarkan suaranya yang sangat indah. Ayah bertanya kepadaku “Nak, suara apa itu?” Aku menjawab seperti halnya Ayah dulu “Itu suara burung, Ayah”. Ayah pun mengangguk. Tak lama kemudian, Ayah bertanya kembali “Suara apa itu, Nak?” terdapat burung yang lewat, Aku menjawabnya “Suara burung itu, Ayah” dengan agak sedikit kesal 2 kali Ayah bertanya dengan pertanyaan yang sama.
                Aku pun kesal dan marah membentak Ayah. Dengan rasa keegoisanku, Aku masih mengendalikan amarahku itu. Tak lama kemudian Ayah bertanya beberapa kali kepadaku dan akhirnya kesabaranku hilang, Aku menjawab dengan penuh rasa kesal, amarah, egois dan nada tinggi (campur aduk) “Ayah sudah dibilangin dari tadi itu suara burung Ayah, tanya mulu. Capek tau gak Ayah jawabnya” dengan rasa penuh kesal Aku meninggalkan Ayah sendiri di taman, sedangkan Aku pergi ke suatu tempat dan menangis di sana.

Ayah yang sedang berada ditaman merasakan kepedihan yang sangat mendalam di hati, Ayah menangis dalam hati berkata “Nak, maaf kalau Ayah membuat kamu kesal dan merepotkanmu. Andai kamu tahu beberapa puluh kamu bertanya kepada Ayah, Ayah selalu menjawab dengan penuh kesabaran dan keikhlasan agar kamu mengerti. Ayah minta maaf jika Ayah punya salah. Tolong maafkan Ayah ya Nak”. Ucap Ayah dalam hati.
Tak lama kemudian Ibu datang menghampiri Ayah di taman karena Ibu khawatir sudah beberapa jam belum pulang. Ibu melihat Ayah sendiri dengan pipi dipenuhi dengan air terlihat seperti Ayah selesai mencuci muka. Ibu segera membawa Ayah pulang ke rumah.

Setelah beberapa menit Ayah dibawa kembali ke rumah bersama Ibu, Aku kembali di taman Aku pikir Aku akan minta maaf kepada Ayah dan membawanya kembali pulang ke rumah, ternyata sudah tidak ada Ayah di taman itu.    Aku panik, segera Aku mencari Ayah dan setiba di rumah ternyata sudah ada di rumah, Ayah. Aku menghela napas dalam-dalam dan segera minta maaf kepada Ayah, Ayah memaafkan Aku. Dan tak lama kemudian Ayah dipanggil oleh sang pencipta, Aku menangis, Ibu, dan juga keluargaku lainnya. Dalam hatiku berkata “Alhamdulillah.. Aku masih diberi kesempatan untuk meminta maaf kepada Ayah”.

Dan disaat itulah Aku diceritakan tentang masa kecilku oleh Ibu Aku. Aku menangis, dan saat itulah Aku mulai selalu menjaga Ibu Aku dengan sebaik-baiknya. Di situlah Aku mendapatkan sebuah pengalaman yang tak akan Aku lupakan dalam hidupku. Aku berjanji akan menjaga Ibu dengan sepenuh hati, membuatnya bangga terhadap Aku.
Jangan pernah kau sekali-kali membantah kedua orangtua karena kapan pun dan di manapun ia sangat menyayangimu

Audit Teknologi Sistem Informasi

  Audit Teknologi Sistem Informasi          1.    Sebutkan dan jelaskan minimal 5 lembaga-lembaga yang melakukan audit sistem    informasi d...