KASIH SAYANG SEORANG AYAH
Suatu hari saat diriku
masih kecil, ketika aku masih berumur 3-4 tahunan. Aku belum kenal sama sekali
akan suara “burung”, hanya saja aku mengerti namanya.
Dihari pagi yang cerah
ini, aku diajak oleh Ayahku keluar rumah, di taman tepatnya. Duduk di taman
dengan merasakan kesejukan pagi hari yang cerah ini.
Suatu ketika, Aku
mendengar suara yang belum pernah dan belum Aku dengar sama sekali, Aku heran.
Di sinilah Aku bertanya “Ayah, suara apa ini?” dengan rasa heranku. Ayah
menjawab “Itu suara burung, nak”. Aku terdiam, dalam hatiku berkata “sungguh
indah suara burung itu”, dan Aku mengungkapkannya kepada Ayah apa isi hatiku
tadi.
Setelah beberapa menit
kemudian, Aku mendengar sebuah suara hewan yang indah, suara itu berasal dari atas
langit. Aku pun bertanya kepada Ayah “Ayah, suara apakah itu? suara itu sangat
indah”. Ayah menjawab “Itu suara burung anakku”. Aku dan Ayah masih berada di
taman.
Beberapa menit kemudian Aku bertanya lagi, karena Aku mendengar suara
yang indah sekali “Ayah, suara apa itu?” dengan penuh keheranan. Dengan senang
hati Ayah menjawab “Itu suara burung sayang..” Aku terdiam, dan beberapa
puluh-puluh kali dan pertanyaan Aku selalu sama, Ayah selalu menjawab dengan
penuh kesabaran dan kasih sayang seorang Ayah.
Terasa sudah lama, Ayah
mengajak Aku pulang. Di rumah Aku selalu diberi kasih sayang yang sangatlah
besar sekali oleh kedua orangtuaku.
Setelah beberapa tahun
kemudian, Aku menginjak umur 18 tahun. Kini Aku lebih dewasa, mengerti apa yang
ada di dunia ini.
Kini Ayahku telah menginjak umur lanjut usia, Ayahku tak bisa
melihat karena 3 tahun yang lalu Ayahku kecelakaan ketika pulang dari
meetingnya, dan disitulah Ayahku harus kehilangan matanya. Tetapi, setelah 1
tahun kejadian itu, Ayah tetap saja bekerja walau tak secepat dulu. Ayah selalu
diantar jemput oleh sopir dan orang yang selalu ada disaat Ayah bekerja.
Ketika Ayah sedang cuti,
Aku mengajak Ayah untuk keluar rumah, seperti halnya ketika Aku masih balita.
Aku mengajak Ayah di sebuah taman yang sangatlah sejuk, karena Ayah sangatlah
suka dengan keindahan dan kesejukan yang ada di taman. Aku duduk di samping
Ayah dan menemaninya.
Suatu ketika ada
segerombol burung yang lewat di atas langit dan melewatiku dan juga Ayah.
Burung itu mengeluarkan suaranya yang sangat indah. Ayah bertanya kepadaku
“Nak, suara apa itu?” Aku menjawab seperti halnya Ayah dulu “Itu suara burung,
Ayah”. Ayah pun mengangguk. Tak lama kemudian, Ayah bertanya kembali “Suara apa
itu, Nak?” terdapat burung yang lewat, Aku menjawabnya “Suara burung itu, Ayah”
dengan agak sedikit kesal 2 kali Ayah bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Aku pun kesal dan marah membentak Ayah. Dengan rasa keegoisanku, Aku masih
mengendalikan amarahku itu. Tak lama kemudian Ayah bertanya beberapa kali kepadaku
dan akhirnya kesabaranku hilang, Aku menjawab dengan penuh rasa kesal, amarah,
egois dan nada tinggi (campur aduk) “Ayah sudah dibilangin dari tadi itu suara
burung Ayah, tanya mulu. Capek tau gak Ayah jawabnya” dengan rasa penuh kesal
Aku meninggalkan Ayah sendiri di taman, sedangkan Aku pergi ke suatu tempat dan
menangis di sana.
Ayah yang sedang berada
ditaman merasakan kepedihan yang sangat mendalam di hati, Ayah menangis dalam
hati berkata “Nak, maaf kalau Ayah membuat kamu kesal dan merepotkanmu. Andai
kamu tahu beberapa puluh kamu bertanya kepada Ayah, Ayah selalu menjawab dengan
penuh kesabaran dan keikhlasan agar kamu mengerti. Ayah minta maaf jika Ayah
punya salah. Tolong maafkan Ayah ya Nak”. Ucap Ayah dalam hati.
Tak lama kemudian Ibu
datang menghampiri Ayah di taman karena Ibu khawatir sudah beberapa jam belum
pulang. Ibu melihat Ayah sendiri dengan pipi dipenuhi dengan air terlihat
seperti Ayah selesai mencuci muka. Ibu segera membawa Ayah pulang ke rumah.
Setelah beberapa menit
Ayah dibawa kembali ke rumah bersama Ibu, Aku kembali di taman Aku pikir Aku
akan minta maaf kepada Ayah dan membawanya kembali pulang ke rumah, ternyata
sudah tidak ada Ayah di taman itu. Aku panik, segera Aku mencari Ayah dan
setiba di rumah ternyata sudah ada di rumah, Ayah. Aku menghela napas
dalam-dalam dan segera minta maaf kepada Ayah, Ayah memaafkan Aku. Dan tak lama
kemudian Ayah dipanggil oleh sang pencipta, Aku menangis, Ibu, dan juga
keluargaku lainnya. Dalam hatiku berkata “Alhamdulillah.. Aku masih diberi
kesempatan untuk meminta maaf kepada Ayah”.
Dan disaat itulah Aku
diceritakan tentang masa kecilku oleh Ibu Aku. Aku menangis, dan saat itulah
Aku mulai selalu menjaga Ibu Aku dengan sebaik-baiknya. Di situlah Aku
mendapatkan sebuah pengalaman yang tak akan Aku lupakan dalam hidupku. Aku
berjanji akan menjaga Ibu dengan sepenuh hati, membuatnya bangga terhadap Aku.
Jangan pernah kau
sekali-kali membantah kedua orangtua karena kapan pun dan di manapun ia sangat
menyayangimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar